« Home

Kukuh Sanyoto : Bahaya, Bangsa Tanpa Minta Baca

MEMBANGUN pembaca baru sudah menjadi keharusan bagi sebuah media massa. Jika tidak, selain akan tergusur oleh media yang sudah kuat, media baru juga terus bermunculan. Belum lagi serbuan hebat tayangan televisi, notabene mendorong media massa cetak mencari berbagai cara untuk dapat survive di tengah persaingan ketat media saat ini. Kalau sulit menambah pelanggan baru, minimal dapat menyelamatkan pembacanya agar tidak hengkang ke media lain.

Adalah Kukuh Sanyoto --lelaki yang semula lebih dikenal sebagai presenter sebuah televisi swasta-- di bawah bendera Newspaper in Education (NiE) Indonesia mengibarkan semangatnya membangun pasar baru pembaca media massa cetak (koran). Kegiatan ini merupakan program pers peduli pendidikan dari Serikat Pekerja Surat kabar (SPS) Indonesia. Sebuah program hasil adopsi dari World Association of Newspaper (WAN) atau serikat pekerja surat kabar dunia.
Di Indonesia, NiE merealisasikan aktivitasnya melalui gerakan koran masuk sekolah (KMS). Sedangkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat terhadap koran dibentuk Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). "Bahaya, bangsa tanpa minat baca," ujarnya menegaskan semua langkah yang sedang dibangunnya.

Bagaimana sepak terjang Kukuh Sanyoto merintis dan mengembangkan NiE Indonesia? Bagaimana pula, persiapannya menghadapi konferensi Young Readers internasional yang akan diselenggarakan di Bali pada 2009 mendatang? Berikut beberapa pandangan dan sepenggal episode kehidupannya, mengapa lelaki ini berani "lompat" dari dunia presenter menjadi penggerak pendidikan pers yang demokratis. Seperti disampaikan kepada wartawan HU Pikiran Rakyat Eriyanti. ND. Berikut petikannya.

Sejak kapan sebenarnya NiE ini hadir di Indonesia dan apa saja visi dan missi yang diembannya?
NiE didirikan sejak 2003 di Merak, Banten. Visi dan misinya membangun generasi masa depan yang cerdas dan berwawasan luas melalui budaya minat baca sejak dini. Mendorong peran serta masyarakat luas (pemerintahan, dunia usaha, dan orang tua) dalam dunia pendidikan. Menanamkan jiwa kemandirian (wirausaha) kepada para siswa.

NiE diaktualisasikan melalui kegiatan koran masuk sekolah (KMS) dan pembentukan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Bentuk media/koran KMS berupa majalah & tabloid anak/remaja, suplemen khusus, rubrik khusus, dan penerbitan khusus/media KMS, dengan segmen sasaran SD, SMP, dan SMU. KMS digerakkan oleh pengelola media massa sedangkan KBMI digerakkan oleh masyarakat yang peduli pada minat baca.

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan, antara lain, lokakarya di Medan, Denpasar (2004), Kuningan (2004), Study Tour ke Kuala Lumpur, Malaysia (The Star, New Straits Times, Berita Harian, Utusan Malaysia). Sedangkan untuk program KMS sudah dilakukan peluncuran KMS & KMBI Riau 10 Februari 2005 oleh Wagub Riau, presentasi NiE di Indonesia di Seoul, Korea, pelantikan KMS & KMBI Indramayu, dan peluncuran KMS & KMBI Nasional oleh Wapres RI, H.M. Jusuf Kalla.

Melihat beberapa agenda yang sudah dilakukan, bagaimana sebenarnya peluang pengembangan NiE di Indonesia?
Pada pertemuan regional di Seoul, saya memberikan presentasi tentang strategi yang akan digunakan di Indonesia. Saat itu, saya katakan, NiE Indonesia akan menggunakan strategi yang bergerak dari bawah ke atas (go local) dengan gerak cepat. Presentasi ini rupanya didukung peserta-peserta lain, termasuk dari World Association Newspaper (WAN). Mereka melihat ini strategi yang sangat baik. Strategi yang dimungkinkan diikuti bersama. Bahkan muncul usulan agar strategi ini dijadikan contoh pengembangan NiE di kawasan Asia. Bukan itu saja, Indonesia juga dapat dijadikan pusat pengembangan NiE di kawasan ini. Yang jelas, Indonesia akan menjadi tuan rumah NiE pada 2009 mendatang.

Persiapan-persiapan apa saja yang dilakukan untuk kepercayaan internasional seperti ini?
September ini ada konferensi internasional NiE atau Young Readers di Buenos Aires Argentina, saya akan melihat bagaimana pelaksanaannya sekaligus mempromosikan rencana penyelenggaraan NiE di Bali pada 2009 mendatang. Sedangkan pada 2007 nanti Young Readers akan dilaksanakan di Washington. Pada tahun inilah kita akan roadshow tentang rencana Young Readers di Bali. Karena keberlangsungan NiE sangat bergantung pada jumlah peserta yang datang. Kita perkirakan jumlah peserta yang akan datang mencapai 400 orang. Ini akan jadi event yang sangat baik untuk mengangkat citra Indonesia. Apalagi yang datang itu kan dari media, tentunya akan sangat membantu Indonesia. Bukan saja untuk pariwisata tetapi juga untuk politik, kegiatan bisnis, dsb.

Tugas Anda sangat berat dong...
Saya melihat ini sebagai tantangan. Namun, saya kira, kita akan mampu melaksanakannya dan mengangkat citra Indonesia jauh lebih baik.

Bagaimana dengan tantangan NiE di Indonesia? Kalau gerakannya dimulai dari lokal, setiap daerah kan kemampuannya berbeda-beda?
Saya selalu punya prinsip, pemberdayaan masyarakat itu harus berangkat dari bawah. Istilahnya pohon itu akan kuat bila akarnya kuat. Prinsip ini yang ingin saya gunakan di NiE. Saya tidak mau mendikte apa yang mesti mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Saya hanya memberi gagasan. Merekalah yang kemudian lebih kreatif dan inovatif mencari cara dan pola-pola paling cocok di daerahnya masing-masing. Kemudian secara periodik kita lakukan pertemuan untuk sharing apa yang dilakukan di setiap daerah. Dari sharing itulah kita akan dapat saling memperkaya diri. Jadi, semakin banyak inisiatif yang diambil masyarakat di tingkat paling rendah, itu akan lebih baik. Oleh karena itu, kita ingin melepaskan diri dari patokan-patokan struktural geopolitis seperti kecamatan, kewilayahan, dll.
**

DI antara kesibukannya, Kukuh Sanyoto mengaku selalu menyisihkan waktu untuk membaca. Apakah itu membaca koran, majalah, buku-buku, makalah, surat-surat di e-mail, ataupun sengaja menonton TV di saat-saat menjelang tidur. Ia juga memantau berita dari radio mobilnya. Dari semua buku yang pernah dibacanya, Kukuh Sanyoto mengaku, buku berjudul Nineteen Eighty Four menjadi buku paling berkesan baginya dan banyak mempengaruhi kehidupannya.

"Dalam buku itu digambarkan masyarakat yang tidak mempunyai kebebasan sama sekali. Manusia tidak berfungsi lagi sebagai manusia. Saya sangat tergugah dan yakin, bahwa perjuangan hak asasi manusia, kebebasan berpikir dan berpendapat itu adalah sesuatu yang asasi. Sesuatu yang harus kita pertahankan dan perjuangkan. Bila hal itu dicabut, esensi kita sebagai manusia sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, saya sangat konsen dan sangat ingin memperjuangkan agar hak asasi itu dihormati. Bukan saja di Indonesia tetapi juga di dunia," ujar penyuka mobil antik dan tarian salsa ini.

Arus perubahan politik reformasi pada 1998 menggiring lelaki ini "banting setir" dari profesinya sebagai presenter televisi swasta menjadi aktivis lembaga swadaya masyarakat yang konsen menyuarakan kebebasan pers. Pada tahun itu pula, ia sering "mangkal" di SPS dan berkenalan dengan orang-orang dari Dewan Pers dan LPDS. "Saat itu saya melihat ada suatu momentum untuk memperjuangkan kebebasan pers. Termasuk adanya kebebasan untuk memperoleh informasi melalui organisasi.

Kebetulan ada beberapa teman yang membentuk masyarakat penyiaran pers Indonesia (MPPI). Saya tinggalkan RCTI dan memilih konsentrasi sebagai aktivis untuk memperjuangkan kebebasan pers dan media," ujar Kukuh yang kini lebih banyak berkecimpung di bidang pendidikan dan peningkatan kualitas jurnalis. Seperti mengajar di lembaga pendidikan jurnalistik Dr. Soetomo dan menjadi Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Konsultasi Komunikasi untuk demokrasi. Pada Januari 2004 diangkat SPS sebagai Direktur Eksekutif Newspaper in Education (NiE) Indonesia. Sembari mengajar bahasa Spanyol di beberapa tempat.

Bagaimana perbedaan kedua dunia ini bagi Anda? Bukankah yang satu lebih menuntut profesionalisme sedangkan yang lainnya lebih fokus pada idealisme?
Betul, sekarang sudah berbeda. Dulu lebih untuk meningkatkan kapasitas profesionalitame. Saya rasa hal itu sudah sampai pada titik bahwa saya sudah harus sharing kepada generasi penerus. Saya mulai melihat betapa pentingnya menyiapkan generasi penerus yang lebih baik. Bukan saja di bidang profesi media atau jurnalisme tetapi juga kepada generasi penerus secara umum.

Oleh sebab itu, sekarang saya lebih banyak berkecimpung untuk meningkatkan minat baca bagi anak-anak. Kelak, mereka akan menjadi generasi yang lebih cerdas, mampu mengalisis, kritis, dan menjadi generasi yang lebih memahami nilai-nilai demokrasi.

Sebagai Direktur NiE, Anda dinilai Maksum Mahtoem sebagai sosok dengan posisi tawar yang sangat baik di mata persuratkabaran internasional. Bagaimana menanggapi hal ini?
Kebetulan saya lahir sebagai anak diplomat. Saya terbiasa berkecimpung dalam dunia diplomasi dan internasional. Kemampuan bahasa Inggris dan Spanyol juga lumayan. Dari situ saya dapat melakukan lobi-lobi di tingkat internasional. Namun, bagaimana pun perkembangan pers Indonesia tidak bisa bergerak sendiri. Dunia internasional yang berkepentingan untuk mengembangkan demokrasi di mana pun, harus membantu perkembangan pers di Indonesia.

Sebab kebebasan pers bagian dari demokrasi. Itulah pesan-pesan yang saya bawa ke forum-forum internasional. Melalui pesan-pesan itu, mereka dapat memahami dan mulai melihat Indonesia sebagai negara yang perlu mereka bantu agar demokrasi di Indonesia berkembang sebagaimana demokrasi negara-negara lain. Mungkin itulah mengapa Pak. Mahtoem berpandangan demikian tentang saya.

Tadi Anda berbicara tentang regenerasi. Dengan posisi Anda sekarang, regenerasi macam apa yang akan Anda bangun dengan NiE ini?
Program NiE ini sangat potensial. Sementara itu, budaya baca juga merupakan masalah serius bangsa ini. Kita bisa lihat bagaimana memprihatinkannya kualitas anak didik kita. Semua itu berujung pada minat membaca. Kalau kita banyak baca, kita banyak tahu. Sebaliknya, kalau kita malas baca, jadi sok tahu. Inilah yang ingin kita tekankan. Bangsa kita itu malas membaca.

Untuk itu, program NiE ini bukan program 3 atau 5 tahun tahun tetapi program 10 sampai 20 tahun. Kita harus menciptakan kader-kader melalui KMS dan KMBI. Di mana sebelumnya sudah ada wartawan-wartawan yang berkecimpung mengembangkan NiE di koran. Melalui gerakan inilah, NiE ingin melahirkan calon-calon penerus bangsa ini yang cerdas dan kritis.

Anda beralih memilih dunia pendidikan untuk mengembangkan kehidupan demokrasi pers di Indonesia. Bagaimana sih kondisi kehidupan demokrasi pers di Indonesia saat ini?
Sama halnya demokrasi, kebebasan pers itu suatu proses yang secara hukum dan konstitusi sudah dijamin kebebasannya. Namun, hal itu perlu suatu proses. Peningkatan kualitas profesionalisme wartawan membutuhkan waktu. Begitu juga peningkatkan profesionalisme media itu sendiri. Bahkan, pemahaman masyarakat tentang kebebasan pers itu juga perlu waktu. Kita sadari, pers itu bukan malaikat. Wartawan dan media bisa melakukan kesalahan-kesalahan. Yang harus mengoreksinya adalah masyarakat.

Jadi, kita juga harus memberdayakan masyarakat agar masyarakat bisa memantau dan mengadvokasi kebebasan pers. Dengan demikain, pers bisa lebih profesional.
Sedangkan di sisi lain, kebebasan pers juga akan bermakna bila pembacanya mayoritas. Tantangannya, oplah dan sirkulasi koran nasional hanya 5 juta untuk 200 juta penduduk. Berarti, pembaca pers masih sangat rendah, 1 berbanding 40. Itulah salah satu tujuan mengapa kita menggerakan NiE. Tujuannya untuk menyiapkan pembaca-pembaca masa depan agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang membaca pers.

Bagaimana dengan profesionalisme wartawan Indonesia saat ini?
Kita harus sadari, berbicara kualitas SDM Indonesia bukan hanya wartawan. Hampir di semua sektor kehidupan, SDM kita memang sangat memprihatinkan. Kalau kita bilang SDM wartawan sangat kurang, begitu juga SDM di pemerintah, pengadilan, penegak hukum, dan di semua sektor lainnya. Salah satu upaya untuk mendobrak itu dengan meningkatkan pendidikan. (Sumber : Pikiran Rakyat, 11 September 2005)

Previous posts

Archives