Tuesday, October 10, 2006

Sekilas tentang Komunitas Minat Baca Indonesia

LATAR BELAKANG

Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) berdiri sejak tanggal 23 Januari 2004 dalam seminar Meningkatkan Minat Baca yang diselenggarakan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat yang didukung Word Association of Newspaper (WAN) di Merak, Banten. Kehadiran KMBI bergandengan tangan dengan Newspaper in Education (NiE) atau Program Koran Masuk Sekolah, guna meningkatkan minat baca di semua lapisan di Indonesia.

Di sisi lain, kian besarnya jumlah pemirsa televisi di Indonesia, umumnya masih berkutat dengan siaran berbau hiburan dan sinetron cengeng yang kurang bermutu. Umumnya para perancang acara dan pemirsa televisi di Indonesia belum menggunakan secara optimal media tersebut, sebagai media untuk lebih mencerdaskan kehidupan yang berakar pada ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang luhur.

Berdasarkan data bahwa ratio pembaca suraktabar dengan jumlah penduduk di Indonesia tahun 1999 adalah 1 : 43. Sedangkan di Malaysia pada tahun yang sama rationya adalah 1 : 8 dan di Singapura 1 : 2. Ratio tersebut mencerminkan tingkat buidaya baca serta tingkat kecerdasan suatu bangsa.

VISI DAN MISI KMBI

Visi : Terbentuknya masyarakat berbudaya membaca sejak dini guna membentuk bangsa yang cerdas dan kritis untuk kesejahtreraan umat manusia.

Misi : Membentuk komunitas gemar membaca sejak dini dari semua tingkatan usia, jenjang pendidikan, di seluruh pelosok Indonesia guna melahirkan bangsa yang cerdas.

PROGRAM KERJA KMBI

Jangka Pendek
  1. Melakukan konsolidasi organisasi di tingkat pusat dan wilayah, guna meningkatkan roda efektifitas organisasi untuk merealisir program kerja.
  2. Bekerjasama dengan program Koran Masuk Sekolah (KMS) untuk memperbanyak penerbit koran (Suratkabar, tabloid, majalah, jurnal) untuk meningkatkan kuantitas program koran masuk ke sekolah (TK, SD, SMP, SMA) di seluruh Indonesia).
  3. Meniongkatkan kerjasama dengan pengelola Perpustakaan Sekolah, Yayasan Pendidikan, Rumah Baca, Kelompok Minat Baca dan lainnya untuk merangsang peningkatan minat baca dalam segala tingkatannya.
  4. Meningkatkan kerjasama dengan para Kepala Sekolah dan para guru untuk memperbanyak kegiatan yang berkaitan dengan lomba mengaranag, lomba menulis, lomba apresiasi seni, dan sastra dalam segala tingkatan usia dan jenjang pentitikan di seluruh Indonesia.
  5. Meningkatkan kerjasama dengan para penerbit koran (suratkabar, tabloid, majalah, jurnal) serta lembaga yang berhubungan dengan penerbitan buku, seperti IKAPI, Lingkar Pena, dan lainnya untuk merangsang minat baca dalam segala tingkatannya.
  6. Meningkatkan kerjasama dengan kalangan industri (perusahaan swasta dan BUMN) untuk berpartisipasi meningkatkan minat baca anak-anak bangsa dalam berbagai kegiatan, antara lain Koran Masuk Sekolah.
  7. Meningkatkan kerjasama dengan LSM tingkat nasional dan internasional guna meningkatkan minat baca anak-anak bangsa dalam segala tingkatan menuju masyarakat madani yang berbudaya baca, terdidik, dan kritis.

Jangka Panjang

  1. Bekerjasama dengan seluruh instansi (pemerintah dan swasta) untuk mengembangkan dan memperbanyak perpustakaan di Sekolah (TK, SD, SMP, SMA) serta di seluruh lingkungan masyaraat di seluruh Indonesia.
  2. Bekerjasama dengan semua pihak untuk memperbanyak kelompok atau komunitas gemar membaca dan semua lapisan masyarakat guna membudayakan membaca sejak dini.
  3. Bekerjasama dengan pihak para pengelola sekolah (TK, SD, SMP, SMA) di seluruh Indoensia untuk mengadakan aneka lomba menulis, membuat resensi buku, apreasiasi sastra secara berkala dalam segala tingkatan.
  4. Bekerjasama dengan para pengelola sekolah dan pengurus perkumpulan minat baca, karang karunia dan kelompok lainnya untuk memperbanyak sarana seperti rumah baca, dan lainnya untuk penyebaran informasi guna merangsang minat baca

Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) : Digelar, Lomba Mading SMP/SMA se-DIY

MEMPERINGATI Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2006, Lembaga Pelatihan Jur­nalistik Bernas (LPJB) dan Koran Masuk Sekolah (KMS) Bernas Remaja bekerja sama dengan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) wilayah Prov­insi DIY dan Dinas Pendidikan Provinsi DIY menggelar lomba majalah dinding tingkat SMP/­MTs dan SMA/MA/SMK se-Provinsi DIY.

Ketua Panitia Lomba, Praba Pangripta melalui rilisnya men­jelaskan, lomba bertema "Media Sekolah Wadah Ekspresi dan Informasi Siswa" itu bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan minat tulis para pela­jar, selain untuk menyalurkan bakat dan minat pelajar di bi­dang jurnalistik. Secara teknis, majalah din­ding yang dilombakan, menurut Praba, harus memuat unsur-unsur tulisan fakta, opini dan fiksi dan tidak boleh mengan­dung unsur SARA, pornografi, sadisme atau menjelek-jelekkan pihak lain.

"Untuk tema khususnya kita serahkan sepenuhnya kepada peserta lomba, asalkan selalu dalam koridor pendidikan," ujarnya. Dijelaskan Praba, dalam lomba tersebut, pembuatan majalah dinding dilaksanakan di sekolah masing-masing, dan wajib dikumpulkan paling lam­bat Selasa (7/2) di sekretariat LPJB, Jalan IKIP PGRI Sonose­wu, Jogja.

Peserta lomba merupakan kelompok siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK se-DIY yang masing-masing kelompok ber­anggotakan 5 orang. Setiap sekolah boleh mengirimkan lebih dari 1 kelompok/karya, dengan biaya pendaftaran tiap kelompok sebesar Rp 25.000. Karya peserta dibuat meng­gunakan kertas manila/karton dengan ukuran minimal 61 x 86 cm dan ukuran maksimal 79 x 109 cm, dengan biaya operasio­nal pembuatan majalah dinding maksimal sebesar Rp 50.000.

Pelatihan/pembekalan dan technical meeting (tiap kelom­pok diwakili satu orang siswa) dilaksanakan Kamis (2/2) pukul 10.00 WIB-12.00 WIB di kantor Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Jalan Cendana No. 29, Jogja. Lomba tersebut memperebut­kan Juara I hingga peringkat VI. Untuk Juara I akan menda­patkan uang pembinaan sebesar Rp 400.000, peringkat II uang Rp 350.000, peringkat III Rp 300.000, peringkat IV sebesar 250.000, peringkat V Rp 200.000 dan peringkat VI berhak atas uang pembinaan Rp 150.000. Keseluruhan dari mereka men­dapatkan trofi dan sertifikat.

Pendaftaran mulai dibuka 16-31 Januari di Sekretariat LPJB, Jalan IKIP PGRI, Sonos­ewu, Jogja, telp (0274)377559 dengan kontak person Isna Nurhajaroh di 085643148808. Selain itu bisa juga di SMP Pangudi Luhur 2, Jalan Melati Wetan 51, Jogja telp (0274)583­973 dengan kontak person Retno P Setyaningsih di 081826­3008, SMA Bopkri 2 Jalan Jen­deral Sudirman 87, Jogja telp (0274)513433 dengan kontak person Paulus Kristiyanto di 08122703447.

"Pendaftaran dapat pula melalui SMS dan biaya pendaft­arannya dapat diserahkan ber­sama dengan pelaksanaan pela­tihan/pembekalan dan technical meeting," tandas Praba Pangrip­ta. Pengumuman sekaligus pe­nyerahan hadiah akan dilaku­kan di SMK 3 Kasihan Bantul (SMSR Bugisan) pada hari Jum­at (10/2) pukul 10.00 WIB. Pene­rimaan hadiah sekaligus akan dimeriahkan dengan gelar pen­tas seni dari berbagai sekolah.

"Hasil karya majalah dinding akan dipamerkan selama dua hari, Jumat (10/2) dan Sabtu (11/2) di SMK 3 Kasihan, sekali­gus akan dimuat di halaman Koran Masuk Sekolah (KMS) Bernas Remaja," jelas Praba Pangripta. (*) (Sumber : Bernas, Selasa, 17 Jan 2006)

Koran Masuk Sekolah untuk Banten Membaca

Oleh : Aji Setiakarya, Menteri Keuangan Rumah Dunia dan Mahasiswa Komunikasi Untirta, mengikuti Evaluasi Dan Lokakarya KMS dan KMBI yang diselenggarakan oleh NiE Indonesia

SAAT Jan Vincens Steen, Kepala Newspaper In Education (NiE) Norwegia memaparkan tentang program kerja NiE Norwegia di hadapan peserta Evaluasi Koran Masuk Sekolah dan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) di Hotel Yasmin Cianjur Jawa-Barat, ia langsung mendapatkan sorak gemuruh dari peserta.

Jan dalam presentasinya menjelaskan untuk meningkatkan minat baca anak-anak, sekolah-sekolah di Norwegia mendapatkan koran gratis setiap harinya. Bukan hanya itu, kata Jan, untuk meningkatkan gemar membaca di kalangan anak muda, penerbit surat kabar itu menggaji orang-orang yang tergabung dengan NiE, yang bekerja mendorong tumbuhnya minat baca di sekolah dengan memberikan pembelajaran sekitar dunia jurnalistik dan persuratkabaran. Pernyataan Jan langsung dihujani pertanyaan, diantaranya peserta dari Riau. ”Itu di Norwegia, di Indonesia mana mungkin?” kata si peserta. ”Sekolah saja banyak yang roboh!” tambahnya lagi.

Ah, saya merasa pilu dan malu mendengar pernyataan rekan saya dari Riau itu. Benar sekali negara kita ini memang sudah tertinggal jauh. Jangankan untuk memberikan koran gratis, untuk membangun sekolah saja susah. Saat itu, tiba-tiba saya teringat dengan guru PPkN saya di Madrasah Aliyah dulu. Dia menyebut Indonesia dengan negara ironis. Ironis, menurut dia karena Indonesia adalah negara dengan kekayaan yang besar tapi masyarakatnya miskin. Ironis kata guru saya itu, masyarakat Indonesia hanya menjadi penonton saat sumber daya alamnya digali oleh orang asing. Negara ini Ironis, tambahnya lagi, karena ternyata orang kita sendiri yang membodohinya, yang membuat negara ini bodoh. Kasus sekolah roboh adalah akibat ulah oknum bangsa sendiri yang serakah terhadap harta.

Tapi, tentu saja kita tidak boleh menyerah dengan keadaan carut marut ini. Sebagai rakyat biasa yang mengingini sebuah perubahan, maka mimpi menuju yang lebih baik tetap saja harus diciptakan dan ditancapkan untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Dan saya bermimpi kalau koran sebagai pemicu untuk meningkatkan minat baca bisa dikonsumsi secara gratis oleh para pelajar Indonesia.

Ada beberapa peluang yang bisa dilakukan oleh berbagai komponen masyarakat untuk merealisasikan mimpi-mimpi di atas. Pertama, semua golongan masyarakat harus sepakat jika membaca bisa menambah kecerdasan suatu bangsa dan negara ini yang pada akhirnya akan meningkatkan indeks pertumbuhan manusia. Membaca sebagai penopang dan panglima dalam menumbuhkan sikap kreatif dan inovatif serta bisa menambah value diri suatu bangsa.

Persoalan yang kita dapati di hampir negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah adanya sekelompok orang, biasanya dari penguasa yang tidak terbuka terhadap inovasi atau pemikiran baru. Hal ini disebabkan oleh kehawatiran lepasnya kekuasaan mereka. Bisa jadi, membaca adalah bagian yang dianggap dapat menggeser kekuasaannya sehingga mereka tidak simpati terhadap aktivitas membaca. Seperti dengan yang dijelaskan Wien Muldian, Direktur Senayan@Library pada acara Literacy Clinic di Sari Kuring Cilegon. Wien merasa curiga dengan pemerintah ”Jangan-jangan pemerintah tidak mau rakyatnya membaca, karena kalau banyak membaca jadi cerdas dan kritis,” kata Wien.

Kedua, koran sebagai investasi. Koran yang dikemas dengan desain yang dipenuhi dengan berbagai desain menarik bisa menjadi alat ampuh untuk meningkatkan reading habbit menggantikan buku yang sudah mendapatkan persepsi negatif—sebagian orang takut pada buku, enggan membaca buku—. Koran yang merupakan media informasi yang berkala dapat dijadikan alat transfer knowledge.

Misalnya koran itu menyediakan rubrik untuk pendidikan atau pengetahuan umum. Beberapa media massa nasional di Indonesia telah menyediakan rubrik-rubrik khusus yang menurut saya bagus untuk menarik minat baca masyarakat. Dengan kemasan yang komunikatif pembaca diajak berinteraksi, misalnya dengan menyediakan soal-soal di koran atau simulasi lainnya lewat koran. Ini merupakan langkah maju.

Tetapi banyak perusahaan surat kabar yang belum melakukan hal-hal terpuji seperti di atas. Mereka hanya profit oriented. Kepentingan bisnis atau hanya kepentingan politik tanpa memiliki cita-cita memperbaiki kualitas hidup masyarakat apalagi mencerdaskan bangsa. Di Banten, dari dua koran harian yang terbit di Banten, hanya Radar Banten dengan Radar Yunior-nya. Itu pun kontennya baru berupa news kegiatan kampus atau sekolah. Adapun karya-karya seperti puisi, karya sastra, opini, informasi teknologi dan lainnya yang bernilai edukasi belum ada. Koran harusnya menjadi investasi untuk pembentukan minat baca masyarakat tidak hanya bisnis.


Ketiga, Alokasi APBD Untuk KMS. Setelah ada kesadaran kalau membaca adalah bagian penting dalam mencerdaskan bangsa kemudian koran menjadi salah satu mediumnya. Maka pemerintah harus tidak segan-segan lagi untuk mengalokasikan dananya untuk KMS ini. Tidak ada lagi alasan kalau koran tidak bermanfaat dan mengatakan koran hanya ladang bisnis dan membuat anak malas. Percayalah kalau koran membentuk mindset generasi muda. Sebagai media informasi berkala yang didesain dengan variasi yang tinggi, koran mampu menarik minat membaca. Tentu saja, usaha pemerintah tidak bisa sendiri. Ia harus menjalin koordinasi dengan berbagai macam pihak. Dengan guru, komunitas dan institusi media itu sendiri. Sehingga berjalan kompak dan komprehensif.

Di Norwegia, kata Jan Vince Steen koran yang dibagikan gratis pada tiap sekolah tidak dibiayai oleh pemerintah tapi oleh LSM atau lembaga-lembaga internasional. Sedangakan penerbit surat kabar menggaji para instruktur yang membina keberhasilan KMS ini. Jan sendiri digaji oleh institusi pers. Belakangan ini wacana tentang Banten Membaca dan Budaya Literasi ramai diperbincangkan oleh teman-teman yang tergabung di pers, komunitas dan institusi pendidikan. Sekian wacana yang muncul, hampir tidak ada ide untuk mengenalkan Koran Masuk Sekolah (KMS). Padahal KMS ini bisa menjadi pelopor untuk membudayakan membaca dan literasi sejak dini sehingga Banten Membaca terwujud. (Sumber : Rumah Dunia, 31 Juni 2006)


Waspada Kreasi Raih Penghargaan KMS

NEWSPAPER in Education (NiE) Indonesia dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS-Pusat) pada 4-6 Juli lalu menyelenggarakan program evaluasi Koran Masuk Sekolah (KMS) dan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) yang kedua kalinya di Yasmin, Jl. Jeprah No. 69 Palasari, Puncak, Jawa Barat.

Bersamaan dengan acara tersebut, juga dilaksanakan Lomba Desain dan Konten dari para penerbit yang telah memiliki rubrik KMS. Dalam kesempatan itu, Harian Waspada terpilih sebagai pemenang lomba dalam kategori Konten.

Peserta evaluasi dan lokakarya ini diikuti penerbit-penerbit surat kabar yang memiliki rubrik dengan logo KMS termasuk dari Harian Waspada dan beberapa pengurus KMBI dari beberapa daerah provinsi di Indonesia. Tujuan pelaksanaan evaluasi dan lokakarya tersebut untuk mendekatkan KMS kepada anak-anak (pelajar) atau pembaca muda.

Dalam pertemuan yang dipelopori NiE Indonesia dan SPS-Pusat ini, membahas program-program apa yang telah dijalankan masing-masing anggota KMS yang hadir sebagai peserta, seperti identifikasi masalah, tantangan dan peluang. Hal ini diakibatkan banyaknya media elektronik seperti televisi yang menyebabkan rendahnya minat baca anak-anak pelajar khususnya terhadap buku bacaan sekaligus mempertahankan pembaca muda pada media massa koran maupun majalah.

Sebagai pembicara dalam acara tersebut Jan Vincent Steen dan Per Bjonnes Kristiansen dari Norwegia yang memberikan masukan-masukan tentang bagaimana membuat isi koran menarik bagi anak-anak dan pengembangan isi dan layout KMS sesuai dengan keinginan anak-anak maupun pelajar atau pembaca muda.

Sementara itu, lomba desain dan konten rubrik KMS yang diikuti 16 peserta dari koran dan majalah, memperlombakan tiga kategori yaitu kategori desain/layout dan konten, kategori desain/layout, dan kategori konten. Untuk kategori desain/layout dan konten dimenangkan Harian Radar Lampung dengan rubrik Terpikat, kategori desain/layout dimenangkan Harian Riau Pos dengan rubrik Masa Depan dan kategori konten dimenangkan Harian Waspada Medan dengan rubrik Kreasi. (k01) (hit) (Sumber : Waspada, 13 Juli 2006)

Minat Baca Bangsa Indonesia Rendah

MINAT baca masyarakat Indonesia dinilai masih rendah. Indikator lemahnya minat baca tersebut dapat dilihat dari ratio perbandingan penduduk dengan jumlah surat kabar.

Menurut Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia, Sabarudin Tain, perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia jangat jomplang. Berdasarkan pendataan terakhir pada tahun 1999, lanjut dia, perbandingannya mencapai 1:43. '' Artinya ,jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa, sedangkan jumlah surat kabar hanya 4,8 juta,'' ujarnya disela-sela acara seminar dan lokakarya 'Pemberdayaan Komunitas Minat Baca Menuju Masyarakat Jawa Barat Cerdas', pekan lalu di Sukabumi.

Sabarudin menuturkan, perbandingan tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga atau negara asia lainnya. Pada tahun 1995, lanjut dia, perbandingan penduduk dan surat kabar di Malaysia hanya 1:8,1. Apalagi di negara jepang, rasionya hanya mencapai 1:1,74. '' Dengan negara India saja, Indonesia masih kalah. Di India rationya tersebut bisa mencapai 1:38,4,'' paparnya.

Kata Sabarudin, rendahnya minat baca atau tidak adanya minat baca di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain, kata dia, yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Baik itu di rumah tangga, sekolah maupun pergaulan. Selain itu, lanjut dia, bisa juga disebabkan oleh sarana bacaan yang terbatas. Perpustakaan sekolah dan pribadi tidak tersedia. '' Bisa juga rendanya minat baca ini disebabkan oleh materi bacaan yang tidak menarik, tidak ada budaya membaca dan juga rendahnya minat dan daya beli,'' ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Sabarudin, posisi Indonesia dari aspek penilian Human Development Indek (IPM), pada tahun 2003 menempati urutan yang cukup rendah. Indonesia, kata dia, menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga, lanjut dia, dari kategori The Politic Economic Risk Constitution (PERC) 2003.

Indonesia, lanjut dia, menempati posisi ke 12 dari 12 negara. '' Artinya, Indonesia menempati peringkat yang terakhir dari 12 negara yang ada,'' paparnya.Menurut Sabarudin, sekarang ini tercipta masyarakat yang tidak kritis dan cerdas. '' Membuat masyarakat kita tidak obyektif, sulit dipersatukan dalam bertukar pikiran dan berbeda pendapat,'' imbuhnya. Dan juga terciptanya masyarakat sok tahu dan cepat pikun pada masa usia tua. (Sumber : Koran Republika, 24 September 2004)

SPS Berikan Penghargaan kepada Bupati Indramayu

BUPATI Indramayu H Irianto M.S Syafiuddin kembali menerima penghargaan tingkat nasional dan penghargaan kali ini diberikan oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua SPS Pusat H Syafik Umar, Kamis (7/4) di Pendopo Kabupaten Indramayu.

KETUA Serikat Penerbit Surat kabar (SPS) H. Syafik Umar (kanan) menyerahkan penghargaan dari SPS Pusat kepada Bupati Indramayu H. Irianto M.S. Syafiuddin, Kamis (7/4). Penghargaan ini diberikan karena Irianto dinilai berprestasi dan berperan besar dalam mendorong minat baca masyarakat.

Penghargaan diberikan karena selama kepemimpinannya, Bupati H Irianto M.S Syafiuddin dinilai berprestasi dan berperan besar dalam mendorong minat baca masyarakat.
Menurut Ketua SPS Pusat H Syafik Umar, upaya meningkatkan minat baca masyarakat merupakan salah satu program nasional yang juga dilaksanakan oleh SPS. Sebab minat baca yang ada pada masyarakat merupakan salah satu indikator kecerdasan bangsa.

Sementara, lanjut Syafik Umar, pemerintah daerah dinilai memiliki peranan yang sangat besar dalam pelaksanaan program peningkatan minat baca masyarakat tersebut. Karenanya, ketika ditemukan adanya pimpinan daerah yang memiliki kepedulian dan dirasakan menonjol peranannya dalam meningkatkan minat baca masyarakat seperti yang dilakukan Bupati Indramayu H Irianto M.S Syafiuddin, SPS berkewajiban untuk memberikan perhatian dalam bentuk pemberian penghargaan.

"Apalagi di samping berperan besar dalam mendorong minat baca masyarakat, Bupati Indramayu ini telah mencatatkan banyak keberhasilan di berbagai bidang. Karenanya saya sungguh bangga dengan prestasi Bung Yance (Bupati H Irianto M.S Syafiuddin-red) tersebut," kata H Syafik Umar yang juga Direktur Utama PT Pikiran Rakyat Bandung.

Dikatakannya, pertimbangan lain diberikannya penghargaan tersebut karena sebagai pemimpin di daerah H Irianto M.S Syafiuddin telah melakukan berbagai kebijakan yang nyata dalam mendorong mutu pendidikan di daerahnya. Hal itu terlihat dari kebijakannya yang telah mengalokasikan anggaran pada APBD untuk pendidikan yang mencapai 38,7%. Selain itu, dialokasikan pula dana untuk penanggulangan anak-anak yang terancam putus sekolah yang mencapai Rp 12,6 miliar.

Langkah itu, kata Syafik Umar, sejalan dengan program peduli pendidikan yang dilaksanakan oleh SPS. Karenanya diharapkan, apa yang dilakukan oleh Bupati H Irianto M.S Syafiuddin dapat terus memacu dan mendorong daerah-daerah lain untuk lebih peduli kepada permasalahan pendidikan dan peningkatan minat baca di masyarakat.

Papan baca
Direktur Utama PT Pikiran Rakyat Bandung, H Syafik Umar yang juga menjabat Pemimpin Umum Harian Umum Pikiran Rakyat pada kesempatan itu mengungkapkan, HU Pikiran Rakyat sebagai koran yang berbasis di Provinsi Jawa Barat dan hidup di tengah-tengah budaya Jawa Barat terus berupaya mendorong minat baca masyarakat Jawa Barat.

"Untuk tahun ini, PT Pikiran Rakyat Bandung telah membuat papan baca sebanyak 150 buah yang dipasang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat. Hal itu merupakan bukti kepedulian Harian Umum Pikiran Rakyat dalam mendorong dan melaksanakan Program Peduli Pendidikan. Karenanya, dana-dana sosial dari masyarakat yang ada di PT Pikiran Rakyat pun penyaluran dan pengalokasiannya sepenuhnya lebih difokuskan untuk pengembangan dunia pendidikan di Jawa Barat," ungkapnya.

Selain menerima penghargaan dari SPS Pusat, Bupati H Irianto M.S Syafiuddin pada kesempatan tersebut juga melantik kepengurusan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) Cabang Indramayu. Pada kesempatan pelantikan KMBI Cabang Indramayu itu selain H Syafik Umar tampak hadir Ketua Pelaksana Harian SPS Pusat H Mahtum Mastoem, Ketua KMBI Pusat Dr Sabarudin Tain dan Direktur Eksekutif News Paper Education of Indonesia Kukuh Sanyoto serta Ketua KMBI Jawa Barat H Hilman BS yang juga Direktur PT Berkah Pikiran Rakyat.

Motivasi
Sementara itu, Bupati Indramayu H Irianto M.S Syafiuddin dalam sambutannya pada pelantikan pengurus KMBI Cabang Indramayu mengatakan, kehadiran KMBI di Kab. Indramayu yang dikembangkan dengan prakarsa dari kalangan organisasi kemasyarakatan, pers, LSM dan kalangan masyarakat peduli pendidikan diharapkan dapat lebih memotivasi masyarakat Indramayu untuk senantiasa mau dan mampu terus mengembangkan dirinya untuk belajat dan terus belajar yang salah satu medianya adalah dengan membaca.

Dikatakannya, budaya membaca bukan saja merupakan kegiatan hobi atau mengisi waktu luang, tetapi lebih jauh merupakan sarana belajar nonformal di luar lembaga pendidikan. "Karenanya, hal ini diharapkan dapat mengubah pandangan sebagian masyarakat yang sementara ini melihat kegiatan belajar hanya dapat dilakukan di lembaga pendidikan. Padahal, belajar di lembaga pendidikan hanya salah satu bagian saja dari proses pembelajaran yang nyata dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Untuk itu, bupati berharap KMBI Cabang Indramayu dapat segera membuat program dan rencana kegiatan yang aplikatif. Setiap langkah kegiatan harus dibangun secara sinergi dengan pemahaman dan kemauan yang tinggi disertai dengan komitmen semua pihak karena membangun dan mengembangkan minat baca dan kebiasaan membaca cakupan kegiatannya sangat luas. Mencakup aspek individual, keluarga serta komunitas tertentu serta masyarakat.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian SPS Pusat H Mahtum Mastoem dalam sambutannya mengatakan, sebagai upaya mendorong segenap lapisan masyarakat untuk gemar membaca sehingga menjadi sangat cerdas memilih dan memilah informasi, SPS meluncurkan program minat baca melalui KMBI. Dan sekarang, KMBI sudah berdiri dan berkiprah di berbagai daerah. "Hari ini kita mulai pula di Indramayu. Kami yakin asal kita serius dan konsisten KMBI akan menjadi alat yang sangat efektif mencerdaskan masyarakat dan bangsa," ujarnya.

Esensi program itu, menurut Mahtum, bukan semata-mata membangkitkan minat baca masyarakat tetapi juga mengajak pelajar dan remaja dalam proses belajar-mengajar untuk memahami makna kebebasan pers, sistem pers nasional kita serta menjadikan berita koran yang berisi realitas dan dinamika sosial lingkungannya menjadi wacana sekolah.(A-96). (Sumber : Pikiran Rakyat, 8 April 2005)

Kukuh Sanyoto : Bahaya, Bangsa Tanpa Minta Baca

MEMBANGUN pembaca baru sudah menjadi keharusan bagi sebuah media massa. Jika tidak, selain akan tergusur oleh media yang sudah kuat, media baru juga terus bermunculan. Belum lagi serbuan hebat tayangan televisi, notabene mendorong media massa cetak mencari berbagai cara untuk dapat survive di tengah persaingan ketat media saat ini. Kalau sulit menambah pelanggan baru, minimal dapat menyelamatkan pembacanya agar tidak hengkang ke media lain.

Adalah Kukuh Sanyoto --lelaki yang semula lebih dikenal sebagai presenter sebuah televisi swasta-- di bawah bendera Newspaper in Education (NiE) Indonesia mengibarkan semangatnya membangun pasar baru pembaca media massa cetak (koran). Kegiatan ini merupakan program pers peduli pendidikan dari Serikat Pekerja Surat kabar (SPS) Indonesia. Sebuah program hasil adopsi dari World Association of Newspaper (WAN) atau serikat pekerja surat kabar dunia.
Di Indonesia, NiE merealisasikan aktivitasnya melalui gerakan koran masuk sekolah (KMS). Sedangkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat terhadap koran dibentuk Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). "Bahaya, bangsa tanpa minat baca," ujarnya menegaskan semua langkah yang sedang dibangunnya.

Bagaimana sepak terjang Kukuh Sanyoto merintis dan mengembangkan NiE Indonesia? Bagaimana pula, persiapannya menghadapi konferensi Young Readers internasional yang akan diselenggarakan di Bali pada 2009 mendatang? Berikut beberapa pandangan dan sepenggal episode kehidupannya, mengapa lelaki ini berani "lompat" dari dunia presenter menjadi penggerak pendidikan pers yang demokratis. Seperti disampaikan kepada wartawan HU Pikiran Rakyat Eriyanti. ND. Berikut petikannya.

Sejak kapan sebenarnya NiE ini hadir di Indonesia dan apa saja visi dan missi yang diembannya?
NiE didirikan sejak 2003 di Merak, Banten. Visi dan misinya membangun generasi masa depan yang cerdas dan berwawasan luas melalui budaya minat baca sejak dini. Mendorong peran serta masyarakat luas (pemerintahan, dunia usaha, dan orang tua) dalam dunia pendidikan. Menanamkan jiwa kemandirian (wirausaha) kepada para siswa.

NiE diaktualisasikan melalui kegiatan koran masuk sekolah (KMS) dan pembentukan Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Bentuk media/koran KMS berupa majalah & tabloid anak/remaja, suplemen khusus, rubrik khusus, dan penerbitan khusus/media KMS, dengan segmen sasaran SD, SMP, dan SMU. KMS digerakkan oleh pengelola media massa sedangkan KBMI digerakkan oleh masyarakat yang peduli pada minat baca.

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan, antara lain, lokakarya di Medan, Denpasar (2004), Kuningan (2004), Study Tour ke Kuala Lumpur, Malaysia (The Star, New Straits Times, Berita Harian, Utusan Malaysia). Sedangkan untuk program KMS sudah dilakukan peluncuran KMS & KMBI Riau 10 Februari 2005 oleh Wagub Riau, presentasi NiE di Indonesia di Seoul, Korea, pelantikan KMS & KMBI Indramayu, dan peluncuran KMS & KMBI Nasional oleh Wapres RI, H.M. Jusuf Kalla.

Melihat beberapa agenda yang sudah dilakukan, bagaimana sebenarnya peluang pengembangan NiE di Indonesia?
Pada pertemuan regional di Seoul, saya memberikan presentasi tentang strategi yang akan digunakan di Indonesia. Saat itu, saya katakan, NiE Indonesia akan menggunakan strategi yang bergerak dari bawah ke atas (go local) dengan gerak cepat. Presentasi ini rupanya didukung peserta-peserta lain, termasuk dari World Association Newspaper (WAN). Mereka melihat ini strategi yang sangat baik. Strategi yang dimungkinkan diikuti bersama. Bahkan muncul usulan agar strategi ini dijadikan contoh pengembangan NiE di kawasan Asia. Bukan itu saja, Indonesia juga dapat dijadikan pusat pengembangan NiE di kawasan ini. Yang jelas, Indonesia akan menjadi tuan rumah NiE pada 2009 mendatang.

Persiapan-persiapan apa saja yang dilakukan untuk kepercayaan internasional seperti ini?
September ini ada konferensi internasional NiE atau Young Readers di Buenos Aires Argentina, saya akan melihat bagaimana pelaksanaannya sekaligus mempromosikan rencana penyelenggaraan NiE di Bali pada 2009 mendatang. Sedangkan pada 2007 nanti Young Readers akan dilaksanakan di Washington. Pada tahun inilah kita akan roadshow tentang rencana Young Readers di Bali. Karena keberlangsungan NiE sangat bergantung pada jumlah peserta yang datang. Kita perkirakan jumlah peserta yang akan datang mencapai 400 orang. Ini akan jadi event yang sangat baik untuk mengangkat citra Indonesia. Apalagi yang datang itu kan dari media, tentunya akan sangat membantu Indonesia. Bukan saja untuk pariwisata tetapi juga untuk politik, kegiatan bisnis, dsb.

Tugas Anda sangat berat dong...
Saya melihat ini sebagai tantangan. Namun, saya kira, kita akan mampu melaksanakannya dan mengangkat citra Indonesia jauh lebih baik.

Bagaimana dengan tantangan NiE di Indonesia? Kalau gerakannya dimulai dari lokal, setiap daerah kan kemampuannya berbeda-beda?
Saya selalu punya prinsip, pemberdayaan masyarakat itu harus berangkat dari bawah. Istilahnya pohon itu akan kuat bila akarnya kuat. Prinsip ini yang ingin saya gunakan di NiE. Saya tidak mau mendikte apa yang mesti mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Saya hanya memberi gagasan. Merekalah yang kemudian lebih kreatif dan inovatif mencari cara dan pola-pola paling cocok di daerahnya masing-masing. Kemudian secara periodik kita lakukan pertemuan untuk sharing apa yang dilakukan di setiap daerah. Dari sharing itulah kita akan dapat saling memperkaya diri. Jadi, semakin banyak inisiatif yang diambil masyarakat di tingkat paling rendah, itu akan lebih baik. Oleh karena itu, kita ingin melepaskan diri dari patokan-patokan struktural geopolitis seperti kecamatan, kewilayahan, dll.
**

DI antara kesibukannya, Kukuh Sanyoto mengaku selalu menyisihkan waktu untuk membaca. Apakah itu membaca koran, majalah, buku-buku, makalah, surat-surat di e-mail, ataupun sengaja menonton TV di saat-saat menjelang tidur. Ia juga memantau berita dari radio mobilnya. Dari semua buku yang pernah dibacanya, Kukuh Sanyoto mengaku, buku berjudul Nineteen Eighty Four menjadi buku paling berkesan baginya dan banyak mempengaruhi kehidupannya.

"Dalam buku itu digambarkan masyarakat yang tidak mempunyai kebebasan sama sekali. Manusia tidak berfungsi lagi sebagai manusia. Saya sangat tergugah dan yakin, bahwa perjuangan hak asasi manusia, kebebasan berpikir dan berpendapat itu adalah sesuatu yang asasi. Sesuatu yang harus kita pertahankan dan perjuangkan. Bila hal itu dicabut, esensi kita sebagai manusia sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, saya sangat konsen dan sangat ingin memperjuangkan agar hak asasi itu dihormati. Bukan saja di Indonesia tetapi juga di dunia," ujar penyuka mobil antik dan tarian salsa ini.

Arus perubahan politik reformasi pada 1998 menggiring lelaki ini "banting setir" dari profesinya sebagai presenter televisi swasta menjadi aktivis lembaga swadaya masyarakat yang konsen menyuarakan kebebasan pers. Pada tahun itu pula, ia sering "mangkal" di SPS dan berkenalan dengan orang-orang dari Dewan Pers dan LPDS. "Saat itu saya melihat ada suatu momentum untuk memperjuangkan kebebasan pers. Termasuk adanya kebebasan untuk memperoleh informasi melalui organisasi.

Kebetulan ada beberapa teman yang membentuk masyarakat penyiaran pers Indonesia (MPPI). Saya tinggalkan RCTI dan memilih konsentrasi sebagai aktivis untuk memperjuangkan kebebasan pers dan media," ujar Kukuh yang kini lebih banyak berkecimpung di bidang pendidikan dan peningkatan kualitas jurnalis. Seperti mengajar di lembaga pendidikan jurnalistik Dr. Soetomo dan menjadi Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Konsultasi Komunikasi untuk demokrasi. Pada Januari 2004 diangkat SPS sebagai Direktur Eksekutif Newspaper in Education (NiE) Indonesia. Sembari mengajar bahasa Spanyol di beberapa tempat.

Bagaimana perbedaan kedua dunia ini bagi Anda? Bukankah yang satu lebih menuntut profesionalisme sedangkan yang lainnya lebih fokus pada idealisme?
Betul, sekarang sudah berbeda. Dulu lebih untuk meningkatkan kapasitas profesionalitame. Saya rasa hal itu sudah sampai pada titik bahwa saya sudah harus sharing kepada generasi penerus. Saya mulai melihat betapa pentingnya menyiapkan generasi penerus yang lebih baik. Bukan saja di bidang profesi media atau jurnalisme tetapi juga kepada generasi penerus secara umum.

Oleh sebab itu, sekarang saya lebih banyak berkecimpung untuk meningkatkan minat baca bagi anak-anak. Kelak, mereka akan menjadi generasi yang lebih cerdas, mampu mengalisis, kritis, dan menjadi generasi yang lebih memahami nilai-nilai demokrasi.

Sebagai Direktur NiE, Anda dinilai Maksum Mahtoem sebagai sosok dengan posisi tawar yang sangat baik di mata persuratkabaran internasional. Bagaimana menanggapi hal ini?
Kebetulan saya lahir sebagai anak diplomat. Saya terbiasa berkecimpung dalam dunia diplomasi dan internasional. Kemampuan bahasa Inggris dan Spanyol juga lumayan. Dari situ saya dapat melakukan lobi-lobi di tingkat internasional. Namun, bagaimana pun perkembangan pers Indonesia tidak bisa bergerak sendiri. Dunia internasional yang berkepentingan untuk mengembangkan demokrasi di mana pun, harus membantu perkembangan pers di Indonesia.

Sebab kebebasan pers bagian dari demokrasi. Itulah pesan-pesan yang saya bawa ke forum-forum internasional. Melalui pesan-pesan itu, mereka dapat memahami dan mulai melihat Indonesia sebagai negara yang perlu mereka bantu agar demokrasi di Indonesia berkembang sebagaimana demokrasi negara-negara lain. Mungkin itulah mengapa Pak. Mahtoem berpandangan demikian tentang saya.

Tadi Anda berbicara tentang regenerasi. Dengan posisi Anda sekarang, regenerasi macam apa yang akan Anda bangun dengan NiE ini?
Program NiE ini sangat potensial. Sementara itu, budaya baca juga merupakan masalah serius bangsa ini. Kita bisa lihat bagaimana memprihatinkannya kualitas anak didik kita. Semua itu berujung pada minat membaca. Kalau kita banyak baca, kita banyak tahu. Sebaliknya, kalau kita malas baca, jadi sok tahu. Inilah yang ingin kita tekankan. Bangsa kita itu malas membaca.

Untuk itu, program NiE ini bukan program 3 atau 5 tahun tahun tetapi program 10 sampai 20 tahun. Kita harus menciptakan kader-kader melalui KMS dan KMBI. Di mana sebelumnya sudah ada wartawan-wartawan yang berkecimpung mengembangkan NiE di koran. Melalui gerakan inilah, NiE ingin melahirkan calon-calon penerus bangsa ini yang cerdas dan kritis.

Anda beralih memilih dunia pendidikan untuk mengembangkan kehidupan demokrasi pers di Indonesia. Bagaimana sih kondisi kehidupan demokrasi pers di Indonesia saat ini?
Sama halnya demokrasi, kebebasan pers itu suatu proses yang secara hukum dan konstitusi sudah dijamin kebebasannya. Namun, hal itu perlu suatu proses. Peningkatan kualitas profesionalisme wartawan membutuhkan waktu. Begitu juga peningkatkan profesionalisme media itu sendiri. Bahkan, pemahaman masyarakat tentang kebebasan pers itu juga perlu waktu. Kita sadari, pers itu bukan malaikat. Wartawan dan media bisa melakukan kesalahan-kesalahan. Yang harus mengoreksinya adalah masyarakat.

Jadi, kita juga harus memberdayakan masyarakat agar masyarakat bisa memantau dan mengadvokasi kebebasan pers. Dengan demikain, pers bisa lebih profesional.
Sedangkan di sisi lain, kebebasan pers juga akan bermakna bila pembacanya mayoritas. Tantangannya, oplah dan sirkulasi koran nasional hanya 5 juta untuk 200 juta penduduk. Berarti, pembaca pers masih sangat rendah, 1 berbanding 40. Itulah salah satu tujuan mengapa kita menggerakan NiE. Tujuannya untuk menyiapkan pembaca-pembaca masa depan agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang membaca pers.

Bagaimana dengan profesionalisme wartawan Indonesia saat ini?
Kita harus sadari, berbicara kualitas SDM Indonesia bukan hanya wartawan. Hampir di semua sektor kehidupan, SDM kita memang sangat memprihatinkan. Kalau kita bilang SDM wartawan sangat kurang, begitu juga SDM di pemerintah, pengadilan, penegak hukum, dan di semua sektor lainnya. Salah satu upaya untuk mendobrak itu dengan meningkatkan pendidikan. (Sumber : Pikiran Rakyat, 11 September 2005)